Guru Matematika

Guru Membangun Nusa dan Bangsa

Mengapa kebaikan sering dibalas keburukan?

membantu
Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seringkali kita dikecewakan oleh orang lain, meskipun kita selalu berbuat baik kepadanya. Bahkan kata penyesalan sering terucap dari bibir kita, menyesal atas apa yang telah kita perbuat dan atas perlakuan balasan yang kita terima. Bahkan karena teramat kesal dan kecewa, statemen penyesalan itu diikuti dengan deklarasi untuk berhenti berbuat baik kepadanya. Na’udzu billah.

Apakah kita seperti demikian? Mari kita instropeksi diri. Karena apa sebenarnya niat utama kita ketika kita berbuat baik kepada orang lain? Apakah menginginkan balasan dari orang tersebut dengan balasan yang serupa atau lebih baik. Atau niat kita merupakan niat yang agung, yaitu menghendaki balasan hanya disisi Allah SWT.

Namun ada juga diantara kita yang mengatakan, “Saya ikhlas, tapi mengapa ia malah berbuat jahat kepada saya?”. Istilahnya air susu dibalas air tuba.


Sebenarnya yang perlu kita perhatikan ketika sudah amat sangat yakin bahwa kita ikhlas adalah konsekwensi dari ikhlas tersebut. Konsekwensinya diantaranya adalah sebagaimana Allah swt sampaikan kepada kita dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 2:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Jadi, konsekwensi setelah kita mengatakan atau berniat tulus ikhlas adalah kita akan diuji apakah kita benar-benar ikhlas hanya mengharapkan balasan dari Allah swt. Bentuk ujiannya bisa berupa balasan yang tidak menyenangkan dari orang-orang yang telah kita berbuat baik kepadanya, istilahnya ‘air susu dibalas air tuba’. Seperti apa reaksi kita, itu menunjukkan setulus apa niat kita.

Ada diantara kita ketika diuji demikian, ia tetap tenang dan tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah ia perbuat. Karena ia yakin Allah swt pasti akan membalas kebaikannya. Ada juga diantara kita yang tidak sampai terucap, hanya ngomel-ngomel dalam hati. Bahkan ada yang sampai terucap, “padahal aku sudah sering berbuat baik kepadanya, tapi balasannya sungguh mengecewakan”. Bahkan ada yang terang-terangkan berucap demikian didepan orang tersebut. Sungguh terlalu. Karena itu bukan hanya menunjukkan kualitas keihklasannya yang cukup rendah, tetapi itu juga dilarang oleh Allah swt karena sangat merugikan kita,

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) dari sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).... (Qs. Al-Baqarah: 264)

Sungguh, jika kita benar-benar tulus ikhlas, apapun yang terjadi, kita tidak akan berani menyebut-nyebut perbuatan baik yang pernah kita perbuat, karena itu sangat tidak menguntungkan. Hanya memuaskan nafsu amarah kita, padahal itu menghanguskan pahala dan itu sangat merugikan kita.


Demikianlah Allah swt memberikan ujian kepada hamba-Nya untuk menunjukkan siapa saja diantara hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dan berhak mendapatkan balasan yang besar dari-Nya. Semoga niat-niat kita selalu terjaga dan Allah swt berikan kekuatan kepada kita agar tetap kuat menjaga keikhlasan kita. Wallahu a’lam.

Menyemai Cinta di Ramadhan

Ramadhan merupakan syahrul tarbiyah, bulan pendidikan bagi segenap kaum muslimin dan muslimat. Pada bulan ini kita didik banyak hal, yang kesemuanya memiliki kebaikan,baik untuk di dunia terlebih kebaikan di akhirat. Sehari-hari, syahrul tarbiyah ini sering kita sebut sebagai bulan untuk melatih berbuat kebaikan. Karena disetiap lini kehidupan masyarakat berubah drastis ketika Ramadhan tiba. Masjid-masjid ramai dan makmur. Shalat sunnah sudah seperti sholat wajib, tidak pernah tinggal. Tilawah Qur’an berkumandang disetiap tempat. Infaq dan shodaqoh menjadi perlombaan. Takjil on the road, sahur on the road menjadi semacam tradisi. Bagi-bagi bingkisan bagi orang yang kurang mampu, bagi-bagi paket lebaran. Ifthar bersama anak yatim, dan sebagainya.
Pendidikan yang dilakukan bulan Ramadhan begitu terasa, dan tentu tujuan dari pendidikan ini adalah kita terbiasa dalam berbuat kebaikan, bahkan harapannya adalah 11 bulan setelah Ramadhan itu harus lebih baik dari giat dari Ramadhan itu sendiri. Istilahny adalah Ramadhan mendidik kita untuk mencintai kebaikan. Cinta inilah yang bersama-sama kita semai di bulan Ramadhan ini dengan harapan diakhir Ramadhan cinta itu sudah tumbuh dan berkembang, sehingga dihari-hari setelah Ramadhan kebaikan-kebaikan lebih giat dan lebih daru yang pernah kita lakukan dimasa pendidikan (di bulan Ramadhan).
Namun, kebanyakan diantara kita berhenti ketika Ramadhan sudah pergi. Ketika masa pendidikan usai, kebaikan-kebaikan yang pernah diagendakan, - Sholat berjamaah, sholat sunnah, Bagi-bagi bingkisan dan paket-paket kepada orang yang membutuhkan, dsb-, itu usai juga. Selesai masa pendidikan, kita kembali kekeadaan semula. Tiada tumbuh rasa cinta kepada kebaikan. Na’udzubillah.
Bukankan ketika cinta akan kebaikan itu tumbuh dan bahkan berkembang, kebaikan-kebaikan itu menjadi pembuas rasa cinta itu sendiri. Sehingga kita rindu yang sangat, suka yang teramat sangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ketika kebaikan-kebaikan itu kita lakukan, ia akan terasa indah. Sebaliknya, kita akan teramat sangat membenci dan marah kepada hal-hal yang menghalangi kita untuk menunaikan hasrat cinta itu.
Hal ini seperti firman Allah swt:
“.... tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah didalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan keduhakaan. ....” (QS. Al-Hujarat:7)
Begitulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Tida hari mereka tanpa kebaikan. Rasulullah qiyamul lail  sampai kai beliau bengkak. Harta yang memereka miliki dikikis habis-habisan untuk kebaikan-kebaikan yang lebih mereka cintai. Sehingga pada suatu kondisi yang sangat sulit sekalipun, mereka lebih mendahulukan berbuat kebaikan kepada orang lain dari pada dirinya sendiri. Menjadi kebiasaan bagi Nabi SAW dan sahabat untuk melaksanakan sholat malam semalam suntuk, bahkan ada yang memberikan sepotong roti kepada orang yang memintanya, padahal itulah satu-satunya makanan yang mereka miliki. Bahkan ketika hampir sekarat akibat luka parah ketika perang, ketika itu mereka sangat kehausan, bisa-bisanya mereka mendahulukan sahabatnya yang lain untuk minum, padahal air itu ada didekat mereka.

Begitulah ketika pendidikan Ramadhan yang mereka lalui berhasil dengan nilai yang memuaskan. Kebaikan-kebaikan menjadi kebutuhan yang harus mereka penuhi, karena hanya dengan itulah cinta mereka terpuaskan. Sehingga tidak mengherankan jika kebaikan-kebaikan itu mereka lakukan melebihi batas kebiasaan orang biasa. Begitulah seharusnya kita ketika Ramadhan usai. Cinta yang kita semai bersama-sama dibulan Ramadhan, tumbuh dan berkembang diakhir Ramadhan, dan terus tumbuh sampai kapanpun. Bahkan ia berkembang, sehingga kebaikan-kebaikan kita tiada henti, bahkan berkembang. Itulah harapan kita bersama. Semoga pendidikan yang kita lalui di bulan Ramadhan ini berhasil dan meraih nilai yang terbaik, sehingga cinta yang kita semai itu tumbuh dan berkembang hingga kapanpun, istiqomah hingga akhir hayat. Amiiin.

5 Hikmah Puasa Yang Wajib Kamu Ketahui


Islam tidak mensyariatkan sesuatu pasti padanya mengandung hikmah, -ada yang diketahui, ada pula yang tidak-. Demikian juga dengan ketetapan-ketetapan Allah swt tidak lepas dari hikmah yang terkanudng dalam ciptaan-Nya, hukum-hukum-Nya pun tidak lepas dari lautan hikmah. Dia Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, Mahabijaksana dalam perintah-Nya, tidak pernah menciptakan sesuatu yang bathil dan tidak pernah mensyariatkan suatu hukum yang sia-sia.

Begitu pula dengan perintah puasa pada bulan Ramadhan, terdapat sejumlah hikmah dan mslahat, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh nash-nash syariat itu sendiri. Diantara hikmah-hikmah puasa adalah sebagai berikut:

1.      Tazkiyatun-nafs (pembersihan jiwa)
Pembersihan jiwa dilakukan dengan mematuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya, serta melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah Swt semata, meskipun dengan menahan diri dari sesuatu yang halal, menyenangkan dan hal-hal yang melekat sebagai kebiasaan. Kalau saja mau, ia bisa saj makan, minum, berhubungan suami-istri  dan tiada seorangpun yang mengetahuinya, dan itu semua halal. Tapi itu semua ia tinggalkan hanya semata untuk meraih Ridha Allah swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada bau minyak kasturi. Dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-KU. Tiap-tiap amal bani Adam baginya, kecuali puasa. Ia untuk-KU dan AKU yang akan memberinya pahala”. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.      Mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi
Selain menyehatkan badan (sebagaimanan dinyatakan oleh para dokter), puasa juga bisa mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia. Manusia dibekali potensi kejahatan dan potensi kebaikan. Satu potensi menyeret manusia kebawah dan potensi yang lain mengangkatnya keatas.


Jika potensi keburukan lebih dominan, ia akan turun ke derajat binatang atau bahkan lebih rendah daripadanya. Sebaliknya apabila potensi kebaikan yang menguasai, ia akan melambung tinggi ke derajat malaikat. Dalam puasa terdapat kemenangan ruh ilahi atas materi, akal pikiran atau nafsu syahwat. Karena dalam puasa, kita meninggalkan semua keinginan atas materi dan nafsu syahwat padahal itu halal, semata-mata karena Allah swt. Puasa mendidik kita untuk mengutamakan Allah swt atas segala sesuatu. Disini kemenangan jiwa, kemenangan potensi kebaikan atas materi, nafsu syahwat dan potensi kejahatan lainnya.

3.      Tarbiyah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran
Terbukti bahwa puasa merupakan tarbiyah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran dan “pemberontakan” kepada hal-hal yang telah mentradisi. Setiap manusia pasti memiliki kemauan, dan setiap agama pasti mengajarkan kesabaran, kesabaran untuk taat dan kesabaran dalam menghadapi maksiat. Puasa mewakili dua kesabaran tersebut.

Sehingga wajar, Rasulullah menamakan Ramadhan sebagai Syahr ash-Shabr (bulan kesabaran). Sebuah hadtis, Rasulullah Saw bersabda:

“Puasa bulan kesabaran dan tiga hari dalam setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada”. (HR. Bazzar)

Ketika kita sudah terdidik dan terlatih untuk sabar terhadap kemauan dan sedikit mengekang kebiasanan yang mentradisi, kita akan terhindar dari hal-hal yang mencelakakan  karena diantara kemauan dan kebiasan ketika tidak dikontrol akan menjerumuskan kedalam dosa, karena kita akan terdorong untuk berlebih-lebihan dalam memperturutkan kemauan dan kebiasan.

Sehingga wajar Rasulullah menganggap puasa itu sebagai junnah (perisai) untuk melindungi diri dari dosa ketika didunia, dan menyelamatkan diri dari api neraka di akhirat.

“Puasa adalah perisai dari api neraka, seperti perisainya salah satu seorang kalian dalam peperangan”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibunu Majah, Ibunu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

4.      Mematahkan gelora Nafsu Seksual
Sudah kita ketahui bersama bahwa nafsu seksual merupakan senjata setan yang paling ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga sejumlah aliran psikologi  menganggap bahwa nafsu seksual adalah penggerak utama semua perilaku manusia.


Puasa berpengaruh mematahkan gelorah syahwat ini dan mengangkat tinggi-tinggi nalurinya, khususnya jika terus-menerus melakukan puasa dengan mengharap pahala Allah swt. Karena itulah Rasulullah SAW memerintahkan puasa kepada pemuda yang belum mampu menikah, sehingga Allah melimpahkan karunia-Nya kepadanya.

5.      Menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah swt
Nikmat bisa membuat orang kehilangan perasaan terhadap nilainya. Ia tidak mengetahui kada kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada ditangannya. Dengan hilangnya nikamt, berbagai hal dengan mudah dibedakan.

Seseorang dapat merasakan nikmatny kenyang dan nikmatnya pemenuhan dahaga jika ia lapar atau kehausan. Jika ia merasa kenyang setelah lapar, atau hilang dahaga setelah kehausan, akan keluar dari relung hatinya ucapan alhamdulillah. Hal itu mendorongnya untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah swt kepadanya.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

“Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah emas. Aku menjawab: ‘Tidak wahai Tuhanku, Akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepada-MU, dan apabila aku kenyang, aku memuji-MU dan bersyukur kepada-MU”. (HR. Ahmda dan Tirmizi)

Itulah beberapa hikmah puasa diantara berjuta-juta hikmah lainnya. Semoga bermanfaat

(Diringkas dari buku Fiquh Puasa, yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi, cetakan Era Intermedia)

Ah, Menyesal Aku Membantunya

Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seringkali kita dikecewakan oleh orang lain, meskipun kita selalu berbuat baik kepadanya. Bahkan kata penyesalan sering terucap dari bibir kita, menyesal atas apa yang telah kita perbuat dan atas perlakuan balasan yang kita terima. Bahkan karena teramat kesal dan kecewa, statemen penyesalan itu diikuti dengan deklarasi untuk berhenti berbuat baik kepadanya. Na’udzu billah.

Apakah kita seperti demikian? Mari kita instropeksi diri. Karena apa sebenarnya niat utama kita ketika kita berbuat baik kepada orang lain? Apakah menginginkan balasan dari orang tersebut dengan balasan yang serupa atau lebih baik. Atau niat kita merupakan niat yang agung, yaitu menghendaki balasan hanya disisi Allah SWT.

Namun ada juga diantara kita yang mengatakan, “Saya ikhlas, tapi mengapa ia malah berbuat jahat kepada saya?”. Istilahnya air susu dibalas air tuba.


Sebenarnya yang perlu kita perhatikan ketika sudah amat sangat yakin bahwa kita ikhlas adalah konsekwensi dari ikhlas tersebut. Konsekwensinya diantaranya adalah sebagaimana Allah swt sampaikan kepada kita dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 2:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”

Jadi, konsekwensi setelah kita mengatakan atau berniat tulus ikhlas adalah kita akan diuji apakah kita benar-benar ikhlas hanya mengharapkan balasan dari Allah swt. Bentuk ujiannya bisa berupa balasan yang tidak menyenangkan dari orang-orang yang telah kita berbuat baik kepadanya, istilahnya ‘air susu dibalas air tuba’. Seperti apa reaksi kita, itu menunjukkan setulus apa niat kita.

Ada diantara kita ketika diuji demikian, ia tetap tenang dan tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah ia perbuat. Karena ia yakin Allah swt pasti akan membalas kebaikannya. Ada juga diantara kita yang tidak sampai terucap, hanya ngomel-ngomel dalam hati. Bahkan ada yang sampai terucap, “padahal aku sudah sering berbuat baik kepadanya, tapi balasannya sungguh mengecewakan”. Bahkan ada yang terang-terangkan berucap demikian didepan orang tersebut. Sungguh terlalu. Karena itu bukan hanya menunjukkan kualitas keihklasannya yang cukup rendah, tetapi itu juga dilarang oleh Allah swt karena sangat merugikan kita,

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) dari sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).... (Qs. Al-Baqarah: 264)

Sungguh, jika kita benar-benar tulus ikhlas, apapun yang terjadi, kita tidak akan berani menyebut-nyebut perbuatan baik yang pernah kita perbuat, karena itu sangat tidak menguntungkan. Hanya memuaskan nafsu amarah kita, padahal itu menghanguskan pahala dan itu sangat merugikan kita.


Demikianlah Allah swt memberikan ujian kepada hamba-Nya untuk menunjukkan siapa saja diantara hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dan berhak mendapatkan balasan yang besar dari-Nya. Semoga niat-niat kita selalu terjaga dan Allah swt berikan kekuatan kepada kita agar tetap kuat menjaga keikhlasan kita. Wallahu a’lam.

Ternyata, lidahlah penyebab penyakit ditubuh kita

“Lidah tidak bertulang”, begitulah pepatah mengatakan, sehinggacukup mudah untuk mengatakan apa saja, baik atau buruk. Sehingga sering kita temukan omongan-omongan dusta yang cukup cepat menyebar yang tidak sedikit dari berita dusta tersebut menimbulkan pertengkaran, permusuhan bahkan sampai terjadi peperangan. Begitulah ketika lidah sering digunakan untuk berbicara dusta.
Banyak diantara kita yang kadang termakan omongan dari “lidah-lidah” dusta. Sungguh mengerikan dan berakibat fatal jika kita begitu saja percaya dan bertindak menurut omongan dusta tersebut. Hal seperti itulah yang menjadi penyebab utama perpecahan diantara kita.
Namun, ternyata banyak diantara kita yang sering didustai oleh lidah kita sendiri, dan akibat yang ditimbulkan tidak kalah mengerikan dibanding kita mempercayai dusta orang lain. Kadang kita percaya begitu saja dengan omongan manis orang lain yang ternyata dusta, begitu juga kita sering kali percaya dengan hal yang manis dan enak menurut lidah kita, yang ternyata itu “dusta”.

Banyak diantara kita bahkan mungkin saya juga, sering bahkan hampir tiap saat didustai oleh lidah kita sendiri. Kita sering percaya begitu saja dengan apa yang dirasakan oleh lidah kita tanpa memiliki pertimbangan “apakah patokan kita lidah atau yang lain”.

Ketika kita mengkonsumsi sesuatu, patokan kita selalu apa kata lidah dan kondisi seperti inilah kita sedang dibohongi oleh lidah kita sendiri yang berakibat sangat fatal bagi diri sendiri. Berbagai penyakit kronis datang bermunculan yang kebanyakan itu diakibatkan oleh sikap kita yang percaya begitu saja dengan lidah.

Ketika lidah berbicara, pantangan-pantangan dari dokter spesialis yang dianjurkan untuk tidak dikonsumsi, semua akan terlupakan. Dan ingan kembali ketika penyakitnya kambuh. Begitulah kenyataan yang sering kita saksikan bahkan mungkin sering kita hadapi.

Begitulah lidah yang berfungsi sebagai indra pengecap rasa dan untuk bicara. Ketika kita fungsikan untuk bicara, kita jaga agar yang terucap adalah yang terbaik. Namun, ketika kita fungsikan ia sebagai pengecap rasa, kita harus memiliki sikap bahwa patokan kita bukan apa kata lidah, tapi aturan gizi. Sehingga sesuatu yang akan kita konsumsi, patokan awal adalah gizi, sehingga ketika patokan gizi sudah terpenuhi, “kata lidah” tidak perlu lagi kita dengarkan. Karena banyak juga diantara kita yang sudah memiliki patokan gizi, tapi karena tidak sesuai dengan lidah, patokan gizinya bergesar.


Semoga bermanfaat.


10 Hal Yang Membuat Pendidikan di Amerika Serikat Maju (2)

Di Indonesia, seringkali pelajaran sejarah menjadi hal yang tidak interesting, membosankan. Mengapa? karena kita diharuskan menghafal banyak tanggal, tahun, tempat dan nama-nama yg cukup banyak. Tanpa tau makna atau hikmahnya apa2.
Namun murid di Pennsylvania malah suka belajar sejarah. Bukan hanya sejarah negaranya, tapi sejarah dunia. Wajar kan jika mereka mudah tuk sukses?

7.      Gemar Membaca
     
Kegemaran membaca memang sangat-sangat baik. Karena dari membaca, kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan. Kebiasaan membaca buku bagi anak-anak Pennsylvania sudah tertanam sejak  kecil. Anak Playgroup di sana sepulang sekolah sudah membawa buku-buku ringan untuk bisa dibacakan orang tuanya. Kemudian siswa setingkat kelas 3 SD sudah membaca novel dan buku pengetahuan.

8.      Ayo diskusi
      
      baca juga: 

3 Langkah mudah menemukan ponsel anda yang hilang atau di curi orang

Dlm sistem pendidikan Amerika, para siswa didukung tuk giat membaca tadi sehingga mereka tidak datang ke kelas dengan kepala kosong. Selain itu bagaimana? mereka selalu didorong untuk diskusi bersama-sama, membahas beragam topik. Diskusi-diskusi ini bertujuan untuk membahas IDE. Jadi bukan untuk sekedar mendapatkan informasi secara pasif ya.
Yang gak kalah penting, dalam sistem pendidikan Amerika, diskusi kelas digerakkan oleh para siswa, bukan (hanya) oleh para guru. Walau siswa maupun guru boleh banget menyumbang ide atau mendebat sebuah gagasan, ujung-ujungnya, siswa bakal berperan lebih aktif.
Dengan basis diskusi ini, kegiatan belajar mengajar seperti ini tentu jadi lebih seru, challanging, dan terbuka, bukan?

9.      No hafalan!
Di Amerika, hampir tidak ada pelajaran yg namanya "hafalan". Jika ada test atau ulangan, biasanya pertanyaan lebih banyak berupa essay yg pengisian titik-titik dg kalimat2 dari kita sendiri sebagai murid. Multiple choice jk pun ada pun porsinya tidak banyak.
Ini tentu sgt berbeda dg di Indonesia. Maukah guru2 ngasih tes esai? Mungkin jika tidak ada perintah atasan, mereka enggan. Mengapa? Repot juga mengoreksinya. Jadi guru cenderung "malas repot-repot banyak berpikir", dan pun "enggan" mengajak muridnya seperti itu juga.

10.  No Mencatat
Di Amerika, hampir tidak pernah ada yg namanya "catatan". Di pelajaran matematika misalnya, guru menerangkan 3 soal matematika di kelas. Lalu bersama-sama memecahkan beberapa soal bersama-sama. Ngapain nyatatnya yah jika dah paham?
Pekerjaan rumah pun berdasarkan apa yg diterangkan di kelas. Bukan dari buku, melainkan dibagikan di selembar kertas copy. Dari situ murid-murid saling berdiskusi, dan mengeluarkan pendapatnya di kelas. Bukan sibuk mencatat seperti di negeri kita.


10 Hal Yang Membuat Pendidikan di Amerika Serikat Maju

sumber
Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah bangsa, sehingga banyak sekali indikator kemajuan seuatu negara adalah pendidikan. Jika kita ingin menilai sebuah bangsa atau negara, maka penilaian dunia pendidikannya adalah sangat tepat.

Begitu juga dengan sebuah negara digdaya, negara super power yang sudah sangat terkenal, Amerika Serikat. Mereka menjadi sebuah negara yang maju disebabkan oleh pendidikan. Mereka memiliki sebuah sistem pendidikan yang tidak seperti di Indonesia, seperti tiadanya Ujian Nasional, dan tidak memiliki sistem pendidikan nasional, pendidikan diatur oleh masing-masing negara bagian. Serta tiap negara bagian menyediakan pendidikan gratis 12 tahun.

Disamping itu semua, yang merupakan kewenangan pemerintah. Ada hal penting yang berkembang di dunia pendidikan di sana, yaitu budaya pendidikan yang sangat mendukung untuk proses pendidikan. Berikut pengalaman seorang mahasiswa Indonesia yg selama 1 tahun pernah mengajar di Pennsylvania, AS melalui IVEP atau International Volunteer Exchange Program
                     
 1.    Gurunya disiplin banget
Di Pennsylvania, guru harus datang lebih awal dari muridnya. Di sana juga nggak bakalan ada jam kosong, karena tiap sekolah sudah menyiapkan guru pengganti yg akan menggantikan guru yg berhalangan hadir.


2.      Prinsip belajar yg tidak nilai oriented
       
Telah jadi hal umum jika pendidikan di Indonesia lebih berorientasi pada nilai. Rapor menjadi hal baku tentang penilaian kepintaran siswa. Murid di Indonesia seakan-akan disuruh menghafalkan, dan harus bisa melewati batas nilai yg ditentukan.

baca juga:
Ummat Islam Wajib Baca, Kisah yang Disembunyikan Mengenai Isra' Mi'raj.

Tapi tidak di Pennsylvania. Di sana juga ada penilaian, tapi tak ditekankan, dan rapor juga tak selalu menjadi penilai kepintaran siswa. Pendidikan di sana lebih menekankan bagaimana para siswa bs mengeksplorasi dan menjelaskan.
                    
3.      Libatkan orangtua
Sekolah di sana intens berhubungan dengan para orang tua siswa. Tiap kali ada sesuatu yang tak beres dengan anaknya, pihak sekolah akan segera mengirimkan email ke orang tua untuk merundingkan masalah anaknya tesebut. Sebaliknya orangtua juga selalu menanyakan perkembangan anaknya ke sekolah. Di sini, hal semacam itu masih jarang ditemui. Ada juga sih orangtua yg datang ke sekolah. Tapi cuma buat ambil rapor atau saat anaknya kena big trouble.

4.      Tidak ada UN
Ujian Nasional (UN) di Indonesia selalu menjadi momok yg menakutkan bagi siswa-siswi kita. Berbeda dgn Pennsylvania, di sana momok itu ditiadakan, alias tidak ada Ujian Nasional (UN) tuk menentukan kelulusan.
        
5.      Expose Day: Mengekspose Kemampuan Siswa
Tiap tahun ada pameran disana. Bukan pameran bisnis atau perdagangan yah, tapi lebih ke pameran penelitian hsl karya siswa. Di Pennsylvania, tiap tahun diadakan pameran untuk menampilkan hasil penelitian atau penemuan siswanya. Murid-murid di sana benar-benar didorong untuk untuk berani bereksperimen.

3 Langkah mudah menemukan ponsel anda yang hilang atau di curi orang

Ponsel pintar yang anda miliki itu memiliki bermacam kemampuan pintar yang mungkin belum anda ketahui. Diantara kemapuan pintar dari ponsel pintar ini adalah: Anda bisa mendeteksi lokasi dan keberadaan ponsel anda, baik ketika anda lupa menyimpannya dimana, atau hilang atau di curi orang.

Berikut cara menggunakan kamampuan pintar ponsel pintar khususnya yang berbasi android.

Pertama, Siapkan Laptop, komputer atau smartphone lain yang bisa digunakan.

Kedua, pastikan adanya akses internet, baik ponsel yang akan ditemukan, maupun laptop atau ponsel yang digunakan untuk mencari. (Jika salah satunya tidak ada akses internet, kita tidak bisa menemukan ponsel yang akan kita temukan).
*** Ini pentingnya, ponsel anda harus selalu memiliki kuota internet

Baca juga: Wahai Kaup Pria, jagalah Auratmu terutama ketika hendak sholat

.
Ketiga, pastika aplikasi GPS pada ponsel yang akan di cari dalam keadaan aktif. (Ini pentingnya, anda harus selalu mengaktifkan GPS di ponsel anda).
*** Jika mode GPS non aktif, anda tetap bisa menemukan ponsel anda, tapi hanya bisa menderingkannya, menghapus file-filenya. Anda tidak bisa menemukan lokasinya melalu maps.

Jika point-point diatas sudah terpenuhi, selanjutnya kita akan masuk ke akun google yang digunakan pada ponsel yang akan kita cari.
  1. buka web browser, lalu masuk ke https://myaccount.google.com/
  2. Selanjutnya pilih pada pilihan Temukan Ponsel Anda, dan Klik Mulai
  3. Kemudian, pilih ponsel yang akan anda cari. Dan Klik.
mencari hp yang hilang
4. Selanjutnya, tinggal pilih mau diapakan ponsel tersebut.
mencari hp yang hilang

  1. Coba anda klik Deringkan, makan dalam beberapa saat, ponsel anda akan berdering, meskipun dalam keadaan diam atau silent. (Mungkin akan membutuhkan waktu beberapa saat, tergantung juga dengan kualitas jaringan internet yang digunakan).
  2. Jika ingin menemukan lokasinya, klik aja Cari, maka google akan mengarahkan anda ke google maps, dan akan menemukan lokasi ponsel anda berdasarkan data yang dikirim oleh GPS ponsel anda.
  3. Disana ada pilihan Kunci ponsel Anda, untuk mengunci Ponsel
  4. Ada pilihan Coba telepon ponsel Anda, untuk menelepon ponsel anda
  5. Ada pilihan Keluar di Ponsel,untuk mengeluarkan akun google yang digunakan diponsel tersebut. (Misalkan Ponsel anda sudah dijual, dan ternyata orang lain masih menggunakan akun google anda, maka anda bisa keluar dari ponsel yang sudah terjual tersebut).
  6. Yang terakhir ada pilihan Pertimbangkan untuk menghapus perangkat, untuk menghapus semua data / memformat data yang ada di ponsel anda, untuk menanggulangi penyalahgunaan data pribadi anda.
Pilihan-pilihan yang lain bisa anda coba sendiri.
Demikian artikel cinta ini saya buat, semoga bermanfaat bagi kita semua. SM
Back To Top