Mengapa kebaikan sering dibalas keburukan?
Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seringkali kita dikecewakan oleh orang lain, meskipun kita selalu berbuat baik kepadanya. Bahkan kata penyesalan sering terucap dari bibir kita, menyesal atas apa yang telah kita perbuat dan atas perlakuan balasan yang kita terima. Bahkan karena teramat kesal dan kecewa, statemen penyesalan itu diikuti dengan deklarasi untuk berhenti berbuat baik kepadanya. Na’udzu billah.
Apakah kita seperti demikian? Mari kita instropeksi diri. Karena apa sebenarnya niat utama kita ketika kita berbuat baik kepada orang lain? Apakah menginginkan balasan dari orang tersebut dengan balasan yang serupa atau lebih baik. Atau niat kita merupakan niat yang agung, yaitu menghendaki balasan hanya disisi Allah SWT.
Namun ada juga diantara kita yang mengatakan, “Saya ikhlas, tapi mengapa ia malah berbuat jahat kepada saya?”. Istilahnya air susu dibalas air tuba.
Sebenarnya yang perlu kita perhatikan ketika sudah amat sangat yakin bahwa kita ikhlas adalah konsekwensi dari ikhlas tersebut. Konsekwensinya diantaranya adalah sebagaimana Allah swt sampaikan kepada kita dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 2:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”
Jadi, konsekwensi setelah kita mengatakan atau berniat tulus ikhlas adalah kita akan diuji apakah kita benar-benar ikhlas hanya mengharapkan balasan dari Allah swt. Bentuk ujiannya bisa berupa balasan yang tidak menyenangkan dari orang-orang yang telah kita berbuat baik kepadanya, istilahnya ‘air susu dibalas air tuba’. Seperti apa reaksi kita, itu menunjukkan setulus apa niat kita.
Ada diantara kita ketika diuji demikian, ia tetap tenang dan tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah ia perbuat. Karena ia yakin Allah swt pasti akan membalas kebaikannya. Ada juga diantara kita yang tidak sampai terucap, hanya ngomel-ngomel dalam hati. Bahkan ada yang sampai terucap, “padahal aku sudah sering berbuat baik kepadanya, tapi balasannya sungguh mengecewakan”. Bahkan ada yang terang-terangkan berucap demikian didepan orang tersebut. Sungguh terlalu. Karena itu bukan hanya menunjukkan kualitas keihklasannya yang cukup rendah, tetapi itu juga dilarang oleh Allah swt karena sangat merugikan kita,
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) dari sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).... (Qs. Al-Baqarah: 264)
Sungguh, jika kita benar-benar tulus ikhlas, apapun yang terjadi, kita tidak akan berani menyebut-nyebut perbuatan baik yang pernah kita perbuat, karena itu sangat tidak menguntungkan. Hanya memuaskan nafsu amarah kita, padahal itu menghanguskan pahala dan itu sangat merugikan kita.
Demikianlah Allah swt memberikan ujian kepada hamba-Nya untuk menunjukkan siapa saja diantara hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dan berhak mendapatkan balasan yang besar dari-Nya. Semoga niat-niat kita selalu terjaga dan Allah swt berikan kekuatan kepada kita agar tetap kuat menjaga keikhlasan kita. Wallahu a’lam.











