Islam tidak mensyariatkan sesuatu
pasti padanya mengandung hikmah, -ada yang diketahui, ada pula yang tidak-. Demikian
juga dengan ketetapan-ketetapan Allah swt tidak lepas dari hikmah yang
terkanudng dalam ciptaan-Nya, hukum-hukum-Nya pun tidak lepas dari lautan
hikmah. Dia Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, Mahabijaksana dalam
perintah-Nya, tidak pernah menciptakan sesuatu yang bathil dan tidak pernah
mensyariatkan suatu hukum yang sia-sia.
Begitu pula dengan perintah puasa
pada bulan Ramadhan, terdapat sejumlah hikmah dan mslahat, sebagaimana yang
telah diisyaratkan oleh nash-nash syariat itu sendiri. Diantara hikmah-hikmah
puasa adalah sebagai berikut:
1.
Tazkiyatun-nafs (pembersihan jiwa)
Pembersihan jiwa dilakukan dengan mematuhi
perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya, serta melatih diri untuk
menyempurnakan ibadah kepada Allah Swt semata, meskipun dengan menahan diri
dari sesuatu yang halal, menyenangkan dan hal-hal yang melekat sebagai
kebiasaan. Kalau saja mau, ia bisa saj makan, minum, berhubungan
suami-istri dan tiada seorangpun yang
mengetahuinya, dan itu semua halal. Tapi itu semua ia tinggalkan hanya semata
untuk meraih Ridha Allah swt.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Demi Dzat yang
diriku ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih
harum disisi Allah dari pada bau minyak kasturi. Dia tidak makan, tidak minum,
dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-KU. Tiap-tiap amal bani Adam
baginya, kecuali puasa. Ia untuk-KU dan AKU yang akan memberinya pahala”. (HR.
Bukhari dan Muslim)
2.
Mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek
materi
Selain menyehatkan badan (sebagaimanan dinyatakan oleh
para dokter), puasa juga bisa mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek
materi dalam diri manusia. Manusia dibekali potensi kejahatan dan potensi
kebaikan. Satu potensi menyeret manusia kebawah dan potensi yang lain mengangkatnya
keatas.
Jika potensi keburukan lebih dominan, ia akan turun ke
derajat binatang atau bahkan lebih rendah daripadanya. Sebaliknya apabila
potensi kebaikan yang menguasai, ia akan melambung tinggi ke derajat malaikat. Dalam
puasa terdapat kemenangan ruh ilahi atas materi, akal pikiran atau nafsu
syahwat. Karena dalam puasa, kita meninggalkan semua keinginan atas materi dan
nafsu syahwat padahal itu halal, semata-mata karena Allah swt. Puasa mendidik
kita untuk mengutamakan Allah swt atas segala sesuatu. Disini kemenangan jiwa,
kemenangan potensi kebaikan atas materi, nafsu syahwat dan potensi kejahatan
lainnya.
3.
Tarbiyah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran
Terbukti bahwa puasa merupakan tarbiyah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa,
pembiasaan kesabaran dan “pemberontakan” kepada hal-hal yang telah mentradisi. Setiap
manusia pasti memiliki kemauan, dan setiap agama pasti mengajarkan kesabaran,
kesabaran untuk taat dan kesabaran dalam menghadapi maksiat. Puasa mewakili dua
kesabaran tersebut.
Sehingga wajar, Rasulullah menamakan Ramadhan sebagai Syahr ash-Shabr (bulan kesabaran).
Sebuah hadtis, Rasulullah Saw bersabda:
“Puasa bulan
kesabaran dan tiga hari dalam setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam
dada”. (HR. Bazzar)
Ketika kita sudah terdidik dan terlatih untuk sabar
terhadap kemauan dan sedikit mengekang kebiasanan yang mentradisi, kita akan
terhindar dari hal-hal yang mencelakakan
karena diantara kemauan dan kebiasan ketika tidak dikontrol akan
menjerumuskan kedalam dosa, karena kita akan terdorong untuk berlebih-lebihan
dalam memperturutkan kemauan dan kebiasan.
Sehingga wajar Rasulullah menganggap puasa itu sebagai
junnah (perisai) untuk melindungi
diri dari dosa ketika didunia, dan menyelamatkan diri dari api neraka di akhirat.
“Puasa adalah
perisai dari api neraka, seperti perisainya salah satu seorang kalian dalam
peperangan”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibunu Majah, Ibunu Hibban dan Ibnu
Khuzaimah).
4.
Mematahkan gelora Nafsu Seksual
Sudah kita ketahui bersama bahwa nafsu seksual
merupakan senjata setan yang paling ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga
sejumlah aliran psikologi menganggap
bahwa nafsu seksual adalah penggerak utama semua perilaku manusia.
Puasa berpengaruh mematahkan gelorah syahwat ini dan
mengangkat tinggi-tinggi nalurinya, khususnya jika terus-menerus melakukan
puasa dengan mengharap pahala Allah swt. Karena itulah Rasulullah SAW
memerintahkan puasa kepada pemuda yang belum mampu menikah, sehingga Allah
melimpahkan karunia-Nya kepadanya.
5.
Menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah swt
Nikmat bisa membuat orang kehilangan perasaan terhadap
nilainya. Ia tidak mengetahui kada kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada
ditangannya. Dengan hilangnya nikamt, berbagai hal dengan mudah dibedakan.
Seseorang dapat merasakan nikmatny kenyang dan
nikmatnya pemenuhan dahaga jika ia lapar atau kehausan. Jika ia merasa kenyang
setelah lapar, atau hilang dahaga setelah kehausan, akan keluar dari relung
hatinya ucapan alhamdulillah. Hal itu mendorongnya untuk mensyukuri
nikmat-nikmat Allah swt kepadanya.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
“Tuhanku pernah
menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah emas. Aku menjawab: ‘Tidak wahai
Tuhanku, Akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar,
aku merendah sembari berzikir kepada-MU, dan apabila aku kenyang, aku memuji-MU
dan bersyukur kepada-MU”. (HR. Ahmda dan Tirmizi)
Itulah beberapa hikmah puasa
diantara berjuta-juta hikmah lainnya. Semoga bermanfaat
(Diringkas dari buku Fiquh Puasa,
yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi, cetakan Era Intermedia)
Labels:
taujih
Thanks for reading 5 Hikmah Puasa Yang Wajib Kamu Ketahui. Please share...!

0 Comment for "5 Hikmah Puasa Yang Wajib Kamu Ketahui"