Guru Membangun Nusa dan Bangsa

Menyemai Cinta di Ramadhan

Ramadhan merupakan syahrul tarbiyah, bulan pendidikan bagi segenap kaum muslimin dan muslimat. Pada bulan ini kita didik banyak hal, yang kesemuanya memiliki kebaikan,baik untuk di dunia terlebih kebaikan di akhirat. Sehari-hari, syahrul tarbiyah ini sering kita sebut sebagai bulan untuk melatih berbuat kebaikan. Karena disetiap lini kehidupan masyarakat berubah drastis ketika Ramadhan tiba. Masjid-masjid ramai dan makmur. Shalat sunnah sudah seperti sholat wajib, tidak pernah tinggal. Tilawah Qur’an berkumandang disetiap tempat. Infaq dan shodaqoh menjadi perlombaan. Takjil on the road, sahur on the road menjadi semacam tradisi. Bagi-bagi bingkisan bagi orang yang kurang mampu, bagi-bagi paket lebaran. Ifthar bersama anak yatim, dan sebagainya.
Pendidikan yang dilakukan bulan Ramadhan begitu terasa, dan tentu tujuan dari pendidikan ini adalah kita terbiasa dalam berbuat kebaikan, bahkan harapannya adalah 11 bulan setelah Ramadhan itu harus lebih baik dari giat dari Ramadhan itu sendiri. Istilahny adalah Ramadhan mendidik kita untuk mencintai kebaikan. Cinta inilah yang bersama-sama kita semai di bulan Ramadhan ini dengan harapan diakhir Ramadhan cinta itu sudah tumbuh dan berkembang, sehingga dihari-hari setelah Ramadhan kebaikan-kebaikan lebih giat dan lebih daru yang pernah kita lakukan dimasa pendidikan (di bulan Ramadhan).
Namun, kebanyakan diantara kita berhenti ketika Ramadhan sudah pergi. Ketika masa pendidikan usai, kebaikan-kebaikan yang pernah diagendakan, - Sholat berjamaah, sholat sunnah, Bagi-bagi bingkisan dan paket-paket kepada orang yang membutuhkan, dsb-, itu usai juga. Selesai masa pendidikan, kita kembali kekeadaan semula. Tiada tumbuh rasa cinta kepada kebaikan. Na’udzubillah.
Bukankan ketika cinta akan kebaikan itu tumbuh dan bahkan berkembang, kebaikan-kebaikan itu menjadi pembuas rasa cinta itu sendiri. Sehingga kita rindu yang sangat, suka yang teramat sangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ketika kebaikan-kebaikan itu kita lakukan, ia akan terasa indah. Sebaliknya, kita akan teramat sangat membenci dan marah kepada hal-hal yang menghalangi kita untuk menunaikan hasrat cinta itu.
Hal ini seperti firman Allah swt:
“.... tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah didalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan keduhakaan. ....” (QS. Al-Hujarat:7)
Begitulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan para sahabat Radhiallahu ‘anhum. Tida hari mereka tanpa kebaikan. Rasulullah qiyamul lail  sampai kai beliau bengkak. Harta yang memereka miliki dikikis habis-habisan untuk kebaikan-kebaikan yang lebih mereka cintai. Sehingga pada suatu kondisi yang sangat sulit sekalipun, mereka lebih mendahulukan berbuat kebaikan kepada orang lain dari pada dirinya sendiri. Menjadi kebiasaan bagi Nabi SAW dan sahabat untuk melaksanakan sholat malam semalam suntuk, bahkan ada yang memberikan sepotong roti kepada orang yang memintanya, padahal itulah satu-satunya makanan yang mereka miliki. Bahkan ketika hampir sekarat akibat luka parah ketika perang, ketika itu mereka sangat kehausan, bisa-bisanya mereka mendahulukan sahabatnya yang lain untuk minum, padahal air itu ada didekat mereka.

Begitulah ketika pendidikan Ramadhan yang mereka lalui berhasil dengan nilai yang memuaskan. Kebaikan-kebaikan menjadi kebutuhan yang harus mereka penuhi, karena hanya dengan itulah cinta mereka terpuaskan. Sehingga tidak mengherankan jika kebaikan-kebaikan itu mereka lakukan melebihi batas kebiasaan orang biasa. Begitulah seharusnya kita ketika Ramadhan usai. Cinta yang kita semai bersama-sama dibulan Ramadhan, tumbuh dan berkembang diakhir Ramadhan, dan terus tumbuh sampai kapanpun. Bahkan ia berkembang, sehingga kebaikan-kebaikan kita tiada henti, bahkan berkembang. Itulah harapan kita bersama. Semoga pendidikan yang kita lalui di bulan Ramadhan ini berhasil dan meraih nilai yang terbaik, sehingga cinta yang kita semai itu tumbuh dan berkembang hingga kapanpun, istiqomah hingga akhir hayat. Amiiin.
Labels: artikel, taujih

Thanks for reading Menyemai Cinta di Ramadhan. Please share...!

0 Comment for "Menyemai Cinta di Ramadhan"

Back To Top