“Lidah tidak bertulang”,
begitulah pepatah mengatakan, sehinggacukup mudah untuk mengatakan apa saja,
baik atau buruk. Sehingga sering kita temukan omongan-omongan dusta yang cukup
cepat menyebar yang tidak sedikit dari berita dusta tersebut menimbulkan
pertengkaran, permusuhan bahkan sampai terjadi peperangan. Begitulah ketika
lidah sering digunakan untuk berbicara dusta.
Banyak diantara kita yang kadang
termakan omongan dari “lidah-lidah” dusta. Sungguh mengerikan dan berakibat
fatal jika kita begitu saja percaya dan bertindak menurut omongan dusta
tersebut. Hal seperti itulah yang menjadi penyebab utama perpecahan diantara
kita.
Namun, ternyata banyak diantara
kita yang sering didustai oleh lidah kita sendiri, dan akibat yang ditimbulkan
tidak kalah mengerikan dibanding kita mempercayai dusta orang lain. Kadang kita
percaya begitu saja dengan omongan manis orang lain yang ternyata dusta, begitu
juga kita sering kali percaya dengan hal yang manis dan enak menurut lidah
kita, yang ternyata itu “dusta”.
Banyak diantara kita bahkan
mungkin saya juga, sering bahkan hampir tiap saat didustai oleh lidah kita
sendiri. Kita sering percaya begitu saja dengan apa yang dirasakan oleh lidah
kita tanpa memiliki pertimbangan “apakah patokan kita lidah atau yang lain”.
Ketika kita mengkonsumsi sesuatu,
patokan kita selalu apa kata lidah dan kondisi seperti inilah kita sedang
dibohongi oleh lidah kita sendiri yang berakibat sangat fatal bagi diri
sendiri. Berbagai penyakit kronis datang bermunculan yang kebanyakan itu
diakibatkan oleh sikap kita yang percaya begitu saja dengan lidah.
Ketika lidah berbicara,
pantangan-pantangan dari dokter spesialis yang dianjurkan untuk tidak
dikonsumsi, semua akan terlupakan. Dan ingan kembali ketika penyakitnya kambuh.
Begitulah kenyataan yang sering kita saksikan bahkan mungkin sering kita
hadapi.
Begitulah lidah yang berfungsi
sebagai indra pengecap rasa dan untuk bicara. Ketika kita fungsikan untuk
bicara, kita jaga agar yang terucap adalah yang terbaik. Namun, ketika kita
fungsikan ia sebagai pengecap rasa, kita harus memiliki sikap bahwa patokan
kita bukan apa kata lidah, tapi aturan gizi. Sehingga sesuatu yang akan kita
konsumsi, patokan awal adalah gizi, sehingga ketika patokan gizi sudah
terpenuhi, “kata lidah” tidak perlu lagi kita dengarkan. Karena banyak juga
diantara kita yang sudah memiliki patokan gizi, tapi karena tidak sesuai dengan
lidah, patokan gizinya bergesar.
Semoga bermanfaat.

0 Comment for "Ternyata, lidahlah penyebab penyakit ditubuh kita"