Guru Membangun Nusa dan Bangsa

Korupsi dan Jalan Raya

korupsi dan jalan raya
Korupsi merupakan suatu kejahatan yang sangat familiar ditelinga setiap warga Indonesia. Betapa tidak, hampir setiap saat korupsi menjadi topik utama diberbagai media nasional, baik media televisi, radio, terlebih lagi media online yang selalu update berita setiap saat. Mulai dari berita tentang tangkap tangan oleh kpk, sampai proses sidang para koruptor.


Tidak sedikit warga yang menyarankan agar para koruptor dihukum mati saja, agar budaya korupsi musnah dari negara ini, sebagaimana yang terjadi di RRC. ada juga yang berkomentar agar para koruptor dimiskinkan, atau di potong tangan, bukan dipotong masa jabatannya. Warga begitu antusias menanggapi kasus korupsi di negeri ini. Betapa tidak, korupsi di negeri ini sudah sangat akut. Tidak hanya korupsinya, penegakkan hukumnya juga sudah “dikorupsi”. Sehingga ada istilah, “di negara Arab, koruptor di potng tangan, di Indonesia, Koruptor dipotong masa tahanan”. Begitulah kenyataannya. Masalahnya bukan hanya kasus korupsinya, tapi juga penegakan hukumnya. Sehingga tidak sedikit warga yang “muak” dengan kasus korupsi dan penegakkan hukum di negeri ini.

Penulis meyakini, masalah korupsi tidak akan hilang dari negeri ini, jika masyarakatnya masih seperti ini. Dengan kata lain, jika negeri ini ingin berubah, maka masyarakatnya juga harus berubah. Karena Pemimpin adalah cerminan rakyat yang dipimpinnya. Sebagaimana perkataan salah seorang Ulama Islam yang terkemukan, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Beliau mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyat yang dipimpinnya.



Saat ini kita menyaksikan begitu banyak kasus korupsi di pemerintahan negara ini, secara tidak langsung menggambarkan “moral” rakyat yang dipimpinnya. Hanya posisi dan bentuknya yang berbeda. Coba kita amati saat berkendara di jalan raya. Begitu banyak “korupsi” yang dilakukan oleh masyarakat. Melanggar rambu-rambu lalu lintas merupakan suatu hal yang biasa. Bahkah saat lampu merah menyala, tidak sedikit masyarakat yang dengan gagahnya menerobosnya, meskipun tidak sedikit juga yang berhenti “menghormati” lampu merah.

Sebagaimana pengamatan penulis dibeberapa tempat, dari sebagian besar pengendara yang berhenti saat lampu merah menyala, tidak sedikit yang berhenti melewati garis marka. Tidak hanya anak muda, orang tua, bapak-bapak, juga da ibu-ibu, ada juga yang membawa anak. Hal ini secara tidak langsung mengajarkannya kepada anak-anak. Dan mengalir terus mendarah daging menjadi budaya di masyarakat. Bahkan masyarakat heran saat ada pengendara yang berhenti sebelum garis marka.



Budaya ini menyiratkan dua hal. Pertama, penegakkan hukum yang masih lemah, sehingga masyarakat tidak merasa bersalah saat melanggar hukum yang ada di jalan raya. Kedua, menyiratkan kondisi masyarakat yang sudah rusak, tidak merasa bersalah apalagi berdosa saat melanggar hukum yang berlaku di jalan raya. Bahkan menjadi budaya yang telah mendarah daging di masyarakat.

Dari msayarakat yang seperti inilah para pemimpin dan pejabat lahir. Bahkan untuk beberapa generasi kedapan, kita akan dipimpin oleh pemimpin yang seperti saat ini. Pemimin yang terlahir dan terbentuk karakternya dari generasi yang rusak seperti ini.

Labels: artikel, taujih

Thanks for reading Korupsi dan Jalan Raya. Please share...!

0 Comment for "Korupsi dan Jalan Raya"

Back To Top